BULLYING DI PONDOK PESANTREN: BERTENTANGAN DENGAN AJARAN AKHLAK ULAMA

Banjarnegara, 6 Agustus 2026

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang bertujuan mencetak generasi berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki adab kepada Allah SWT, Rasul-Nya, guru, dan sesama manusia. Oleh karena itu, segala bentuk perbuatan yang menyakiti orang lain, baik secara fisik, lisan, maupun psikologis, tidak memiliki tempat dalam kehidupan pesantren.

Belakangan ini, istilah bullying menjadi perhatian di berbagai lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Bullying dapat berupa ejekan, penghinaan, ancaman, pemukulan, pengucilan, maupun tindakan lain yang membuat seseorang merasa takut, sedih, atau tertekan. Dalam Islam, perbuatan tersebut termasuk akhlak tercela (akhlaq madzmumah) yang harus dijauhi.


Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka…”
(QS. Al-Hujurat: 11)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT secara tegas melarang umat Islam saling merendahkan, mengejek, atau mempermalukan sesama. Karena bisa jadi orang yang diremehkan justru memiliki derajat yang lebih tinggi di sisi Allah. Oleh karena itu, ayat ini menjadi dasar kuat bahwa bullying dalam bentuk apapun tidak dibenarkan dalam Islam.


Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, Syekh Az-Zarnuji menekankan bahwa seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan menjauhi akhlak tercela. Beliau menyatakan:

وَيَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَتَحَلَّى بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَيَتَجَنَّبَ سَفَاسِفَهَا

Artinya:
“Seorang penuntut ilmu hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak-akhlak yang rendah.”

Penjelasan dari kutipan ini menunjukkan bahwa setiap santri wajib menjaga akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku seperti mengejek, mengucilkan, atau menyakiti teman termasuk dalam akhlak rendah yang harus ditinggalkan. Dengan demikian, bullying bertentangan langsung dengan nilai dasar pendidikan dalam pesantren.


Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menegaskan bahwa penuntut ilmu harus menjaga kehormatan sesama, bersikap lembut, dan tidak menyakiti hati orang lain. Penjelasan ini menunjukkan bahwa adab merupakan fondasi utama dalam proses menuntut ilmu.

Dengan demikian, santri yang baik bukan diukur dari senioritas atau kekuatan, tetapi dari kemampuannya menjaga lisan, sikap, dan perbuatan agar tidak melukai orang lain.


Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya dizalimi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa hubungan antar sesama muslim adalah persaudaraan yang harus dijaga. Maka segala bentuk kezaliman, termasuk bullying, dilarang karena merusak ukhuwah Islamiyah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan dari hadits ini menegaskan bahwa iman seseorang belum sempurna jika ia masih menyakiti orang lain. Seorang muslim harus memperlakukan saudaranya sebagaimana ia ingin diperlakukan.


Budaya saling mengejek dengan alasan bercanda perlu diwaspadai, karena tidak semua candaan membawa kebaikan. Ada candaan yang justru melukai hati dan merusak harga diri seseorang.

Di lingkungan pesantren, senior seharusnya menjadi teladan, bukan sumber ketakutan. Santri yang lebih kuat juga harus menjadi pelindung, bukan penindas. Dengan demikian, pesantren akan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang.

Bullying bukanlah tradisi pesantren, melainkan perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai-nilai adab yang diajarkan para ulama. Santri sejati adalah mereka yang mampu menjaga lisan, tangan, dan hatinya dari menyakiti orang lain. Semoga seluruh pondok pesantren menjadi tempat yang aman, nyaman, penuh kasih sayang, serta melahirkan generasi yang alim, berakhlak mulia, dan membawa rahmat bagi umat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

di tulis oleh: ALDO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *