Penulis : Muhammad Adib I
Mengapa beberapa santri nekat melakukan atau bahkan sering melanggar peraturan pesanren… apalagi dengan kategori berat?; Merokok, keluar pesantren tanpa izin, dan lain sebagainya. Mereka berfikir bahwa itu akan membuat mereka lebih bebas. Ya! Memang seperti itu kenyataannya, tetapi mereka tidak tahu hal apa yang akan mereka hadapi.
Rasa jenuh, omelan pengurus, membuat Arman dan Ikhsan males. Mereka anak baik-baik, selalu rajin sholat berjama’ah, tidak suka bolos mengaji ataupun sekolah, taat pada peraturan. Tapi sekarang berbeda, saat ini mereka tengah berbincang- lebih tepatnya membuat rencana ‘jahat’.
“Sepertinya rencana kita akan terlewat menyenangkan. Kita bisa me-“ Arman mengoceh, cukup keras. Ikhsan buru buru memotongnya.
“Kau harus menjaga suaramu. Kita bisa membuat banyak orang mendengarnya, rencana kita bisa gagal”. Mereka sedang berada di aula pesantren, menunggu pengajar datang. Jadwal mengaji mala mini ialah tafsir Al-Ibriz, yang akan dipimpin oleh Gus Arief- “Yaa Allaahuu yaa kaariim…”
Gus Arief datang, mereka mengaji seperti biasa, tetapi yang tidak mereka tahu, dua pasang mata memperhatikan mereka sedari tadi.
Sepulang mengaji, Arman dan Ikhsan mengganti pakaian mereka dengan kaos santai dan celana panjang sekenanya. Mereka menjawab asal semisal ‘Olahraga’ jika ada yang bertanya. Sejauh ini aman. Pikir mereka.
Mereka sampai di jalan persawahan ±200 meter di belakang pesantren setelah melewati kebun orang. Jalanan lengang, gelap dan senyap, hanya diterangi lampu kota yang jauh, juga lampu rumah-rumah di depan sana. Menyusuri jalan hingga sampai di pemukiman. Melewati kebun dan sawah, pemukiman lagi, hingga sampai jalan raya.
Ikhsan telah mampir di Alfamart samping Pom bensin, membeli sebungkus rokok bermerk ‘DUO’. Mereka memilih yang murah karena keterbatasan dana. Masing-masing membakar rokok mereka, bara api menyala. Mereka sudah sampai ke tempat playstation, bernegoisasi sebentar, lalu mulai bermain dan menghisap rokok lagi.
Waktu bermain playstation 3 mereka habis. Rokok yang mereka hisap sudah habis masing-masing 6 batang. Ikhsan membayar biaya bermain playstation mereka, lalu melaju menuju pesantren lagi. Melewati pemukiman, sawah, dan kebun hinga 2 kali dan sampai di pesantren. Saat melewati pagar pembatas, dua pengurus dan dua santri senior menghadang mereka, di bawa ke kantor pesantren untuk dimintai keterangan.
Mereka jujur saat ditanya, mengatakan yang sebenarnya, juga menyerahkan rokok dan uang mereka untuk disita. Mereka dihukum cukur gundul dan berjalan sambil jongkok mengitari lapangan hingga 7 kali putaran. Itu hukuman yang ditimpakan karena beratnya pelanggaran yang dilakukan. Mereka menyesal berbuat seperti itu dan tidak akan mengulanginya.
Hari-hari biasa, Arman dan Ikhsan menjadi lebih rajin dari sebelumnya. Mereka mengambil hikmah bahwa terpengaruh oleh hawa nafsu bisa membuat jasmani dan Rohani mereka rusak. Mereka akan tahu, kelak. Bahwa tujuan mereka mondok tidak akan sia-sia.

