Penulis: Muhammad Adib I
Bandongan adalah metode pembelajaran mengaji tradisional di pesantren. Dalam pelaksanaannya, kiai atau ustaz membacakan dan menjelaskan suatu kitab – biasanya kitab kuning atau kitab gundul – sementara para santri menyimak dengan saksama, memberi makna (ngapsahi), serta menuliskan catatan dari penjelasan yang disampaikan. Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama.
Kitab yang dikaji dalam bandongan umumnya meliputi berbagai bidang keilmuan, seperti Fikih, Tauhid, Tasawuf, Nahwu dan Sharaf, Tafsir, Hadis, serta Ushul Fikih.
Di Pondok Pesantren Yaqutun Nafis, bandongan dilaksanakan ba’da Isya. Kitab-kitab yang dikaji pun beragam, di antaranya dalam bidang Hadis seperti Mukhtār al-Aḥādīts dan At-Tibyān; dalam bidang Tafsir seperti Al-Ibrīz; dalam bidang Fikih seperti Muqaddimah Ḥaḍramiyyah; serta dalam bidang akhlak seperti Tanbīhul Muta’allim.
Para santri Pondok Pesantren Yaqutun Nafis memulai bandongan pada pukul 19.30 setelah melaksanakan salat Isya berjamaah. Setelah seluruh santri berkumpul di majelis, mereka melantunkan lalaran kitab serta Asmaul Husna. Ketika kiai atau ustaz hadir di majelis, seluruh santri bersama-sama membaca doa sebelum mengaji, “Yā Allāhū yā Kārīm…”
Bandongan berlangsung dengan khidmat. Kiai atau ustaz aktif membacakan makna-makna kitab serta memberikan penjelasan, sementara para santri mendengarkan dengan penuh perhatian, memaknai kitab gundul menggunakan huruf Arab Pegon, serta menambahkan catatan pada bagian-bagian yang dianggap penting.
Adapun tujuan dilaksanakannya bandongan ini adalah agar para santri Pondok Pesantren Yaqutun Nafis mampu memahami isi kitab secara mendalam, menguasai struktur bahasa Arab klasik, serta memperoleh penjelasan langsung dari kiai yang memiliki sanad keilmuan.
Demikianlah sekilas gambaran kegiatan ngaji bandongan di Pondok Pesantren Yaqutun Nafis.

