Huru-Hara Para Santri Menjelang Berbuka Puasa

Ramadhan Kariim, bulan yang paling mulia, di mana umat Islam diwajibkan untuk menahan hawa nafsunya, mulai menjelang subuh hingga maghrib tiba. Menahan lapar, dahaga, amarah, dan sifat kemanusiaan lainnya.

Waktu menunjukkan pukul 16.28. Mengaji bandongan sore bulan Ramadhan sudah selesai beberapa menit yang lalu. Aku sedang nderes di serambi masjid sembari menikmati terang sore saat ini. Saat itu Riski—temanku yang berbadan besar—menghampiriku. “San, jajan ke kantin, yok,” ajaknya. Aku pun mengiyakan ajakan tersebut dan kembali berkumpul dengan yang lain.

Kantin belum buka. Kebanyakan temanku bermain bola voli, ada juga yang sepertinya berburu sesuatu untuk berbuka puasa. Aku masih menikmati suasana sore yang cerah ini, membawa cahaya lembut matahari di hamparan pesantren. Tiba-tiba aku melihat bola voli terbang ke arahku dan—bugh! Aduh… sakitnya kepalaku.

Sementara menunggu kantin buka, kami mengambil jatah MBG untuk berbuka puasa. Program pemerintah satu ini memang bisa ditoleransi untuk datang pada sore hari. Waktu itu lauknya ayam goreng dan tahu brontak.

Kantin sudah dibuka, tepat pukul 17.01. Di jajaran rak atas, terpampang beberapa takjil yang dijual—aneka makanan ringan. Aku membeli beberapa, sementara Riski mengambil paling banyak. Beberapa makanan ringan, es buah, dan buah-buahan kuambil lalu kubayar. Setelah itu, aku keluar dari kantin dan menuju asrama.

Jam menunjukkan 18.06. Seharusnya ini sudah waktunya berbuka, tetapi adzan maghrib belum juga terdengar. Teman-teman sekamarku mulai gelisah, hampir saja memasukkan makanan ke dalam mulut. Satu temanku yang lain terkapar, hampir tak berdaya di lantai. Detik berganti menit, tapi tak kunjung adzan. Ini lama banget… Ya sudah— “Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Alhamdulillah. Akhirnya terdengar juga. Berbukalah dengan yang manis-manis. Setelah minum dan hendak makan, tiba-tiba… Gelap. MATI LAMPUU!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *