Penulis: M. Khafid Abdulloh
Di sebuah pondok pesantren, ada 2 santri yang lucu dan rajin ibadah yaitu Iqsan dan Pragos. Pada suatu hari ketika sore, Iqsan dan Pragos melaksanakan ngaji seperti biasa, ketika sedang mengaji, guru kami memberikan sebuah ijazah, yang ijazah itu berisikan doa untuk menyambut bulan Ramadhan
Al-Mukarrom Murobbi Rukhina: “sebelum saya akhiri pengajian pada sore hari ini berhubung nanti malam sudah masuk ke bulan suci Ramadhan, jadi saya akan ijazahkan doa ini untuk kalian semua, semuanya tirukan saya ya”
Santri-santri: “baik ustadz”
Al-Mukarrom Murobbi Rukhina: “Baik, Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma, Ahillahu, ‘Alaina, Bil yumni, Wal imani, Wassalamati, Wal islami, Robbi, Wa Robbukallohu. Jadi doa ini doa untuk menyambut bulan Ramadhan, dibaca dari sekarang hingga waktu sholat maghrib tiba, jadi saya ijazahkan untuk kalian semua. A’jaztum”
Santri-santri: “Qobilna”
Setelah mengaji Iqsan pun tersadar bahwa Ramadhan akan tiba.
Iqsan:”O.. Iya gos besok udah puasa”
Pragos:”Iya ya ngga kerasa, berarti nanti malem udah mulai tarawih dong san”
Iqsan:”Iya gos, berarti kita harus lebih giat dalam belajar dan mengumpulkan amal, jangan sampai Ramadhan tahun ini kita melakukan ibadah yang sama-sama saja seperti di bulan-bulan lain”
Pragos:”Bener san kita harus melakukan ibadah dan amalan-amalan yang spesial di bulan yang penuh keberkahan dan ampunan ini
Iqsan:”Berarti waktunya kita mengamalkan isi dalam kitab Ta’lim Muta’allim karya imam Burhanul Islam Az-Zarnuji, yang berbunyi ‘Jika engkau menginginkan derajat yang tinggi, maka hidupkanlah malam mu’”
Pragos:”Bener itu san berarti nanti malem kita harus sholat malem dan belajar bareng
Malam pun tiba, setelah selesai melakukan shalat tarawih dan ngaji bandongan malam Iqsan dan Pragos tidur sebentar, guna bisa melaksanakan sholat tahajjud, setelah melaksanakan sholat tahajjud, mereka berdua langsung melanjutkan rencana mereka untuk belajar bersama di masjid. Iqsan membawa kitab fiqih kecil seperti safinatunnaja sedangkan Pragos malah membawa kitab fiqih pernikahan seperti Qurrotul Uyun. Iqsan yang menyadari Pragos membawa kitab tersebut langsung bertanya
Iqsan:”Gos kenapa kamu bawa kitab itu bukannya kita mau belajar kitab yang akan kita pelajari besok ya”
Pragos:”Ini juga aku lagi belajar buat besok kok, setelah nikah”
Iqsan:”Ya udah lah semaumu saja”

