Biografi KH. Abdul Fatah

Biografi KH. Abdul Fatah

Pendiri Pondok Pesantren Al Fatah Parakancanggah

KH. Abdul Fatah merupakan pendiri Pondok Pesantren Al Fatah Parakancanggah, Banjarnegara.

Lahir : Banjarnegara, 1860 M
Wafat : Banjarnegara, 6 Mei 1942

KH. Abdul Fatah adalah putra kedua dari empat putra Kiai Naqim. Yahya adalah kakaknya, sedangkan Bahri dan Dahlan adalah adik-adiknya. Sejak masa kecil, KH. Abdul Fatah (Mbah Fatah) selalu membantu orang tuanya dalam bercocok tanam di sawah hingga dewasa.

Selepas masa kanak-kanaknya, Mbah Fatah berkeinginan memperdalam pengetahuan agamanya kepada para ulama. Pengembaraan keilmuan Mbah Fatah dimulai dengan mondok di PonPes Gunung Tawang yang diasuh Kiai Baqin, kemudian kepada Kiai Syuhada di Desa Pesantren Banjarnegara, PonPes Kawedanan Banyumas. Di pesantren yang terakhir disebutkan, Mbah Fatah memperbanyak riyadloh, tirakat, puasa, dan amalan lainnya.

Perjalanan keilmuan Mbah Fatah masih terus berlanjut ke Jawa Timur. Perjalanan dari Banjarnegara ke Jawa Timur yang cukup jauh dan ditempuh dengan berjalan kaki menjadikan beliau singgah menimba ilmu di berbagai pondok, di antaranya Pondok Mangunsari, Pondok Pesantren Cepoko, Pondok Pesantren Mojosari, dan Ponpes Josremo Surabaya. Pengembaraan dalam menuntut ilmu di Jawa Timur ini dilakukan oleh Mbah Fatah selama kurang lebih 17 tahun.

KH. Abdul Fatah menikah dengan Ny. Sinun dan dikaruniai tiga orang putra dan tiga orang putri. Siti Maryam meninggal dunia sebelum menikah, Siti Badriah menikah dengan KH. Damanhuri, Umi Kulsum menikah dengan KH. Hamzah, putra keempat beliau, KH. Hasan Fatah menikah dengan Ny. Hj. Sama’i (kemudian menikah dengan Ny. Hj. Choeriyah setelah Ny. Sama’i wafat), Qomarudin meninggal dunia sewaktu masih muda, dan KH. Ridlo Fatah menikah dengan Ny. Nafisiyah.

Pada tahun 1901 M, di Parakancanggah Kidul (Jambansari), beliau mendirikan sebuah masjid sekaligus Pondok Pesantren (kelak sepeninggal KH. Abdul Fatah, ponpes ini dinamakan PonPes Al-Fatah). Kemudian tahun 1918 M, beliau diberi izin oleh gurunya, Syekh Ali Ridlo ibn Syekh Sulaiman Zuhdi, untuk menjadi Mursyid Thoriqoh Naqsabandiyyah Kholidiyyah di daerah Banjarnegara, Jawa Tengah.

Pada hari Rabu 20 Robiul Tsani 1361 H, Romo KH. Abdul Fatah berpulang keharibaan Allah SWT pada usia 81 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *