Banjarnegara 24 Agustus 2026— Suara deru mobil perlahan menjauh, meninggalkan saya di depan sebuah gerbang pondok pesantren Al-Yaqutun Nafis yang bertuliskan sebuah tulisan sederhana berupa pondok pesantren Tahfidzul Qur’an yang menjadi komplek ke 3 dari pondok pesantren Al-Fatah Parakancanggah, yang diasuh oleh Al-Mukarrom Murobbi Rukhina KH. M. Syafi’ Muslih beserta Nyai H. Durrotun Nafisah Alhafidzoh. Di sanalah orang tua saya melambaikan tangan, menitipkan saya pada sebuah dunia yang sama sekali asing. Jujur, malam pertama di pondok pesantren terasa begitu menyesakkan, karena tidak adanya suara omelan ibu dan bapak serta tidak ada pertengkaran dengan kakak ataupun adik. Tidak ada kamar pribadi yang nyaman, tidak ada gawai / Handpone yang biasa menemani hingga larut malam, dan tidak ada masakan Ibu. Yang ada hanyalah sebuah lemari kayu kecil, box plastik, dan kasur tipis yang yang diberikan kepada ratusan santri atas hak yang seharusnya didapatkan sesuai dengan dana / pembayaran masuk ke pondok pesantren Al-Yaqutun Nafis. Rasa rindu yang dahsyat membuat para santri benar-benar ingin menimba ilmu dengan sungguh-sungguh, agar waktu serta biaya yang sudah diberikan kepada pondok pesantren tidak sia-sia
Namun, pondok pesantren Al-Yaqutun Nafis ini adalah sebuah mesin waktu yang berjalan lambat, namun pasti dapat mengubah seseorang.
Menemukan Kedisiplinan, Dan Melatih Kesabaran
Perubahan pertama yang saya rasakan adalah meningkatnya sebuah kesabaran di dalam hati dalam menimba ilmu di pondok pesantren, serta bertambahnya rasa keingin tahuan, yang menjadikan saya selalu ingin belajar dan belajar . Di rumah, saya adalah anak yang malas, makan harus disiapkan, baju dicucikan oleh ibu, dan disuruh tidur malam agak susah. Di pesantren, semua itu berubah total, dari yang tadinya malas-malasan sekarang sudah tidak bisa lagi.
Setiap jam 03.30 pagi, suara musyrif / musyrifah (ustadz / ustadzah) dan bunyi sebuah bel yang keras memaksa saya untuk bangun pagi. Kami mengantri kamar mandi dalam dinginnya fajar, dan bergegas mengejar saf shalat Tahajjud dan shalat Subuh berjamaah. Saya yang dulu menganggap waktu adalah hal yang bisa dibuang-buang, kini belajar menghargai setiap detik yang memang benar-benar berharga. Di sini, saya belajar mencuci baju sendiri, mengantri makanan dengan sabar, dan menyapu kamar bersama-sama. Kami diajarkan bahwa tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semua sama di hadapan Allah SWT
Perkembangan RutinitasYang Baik
Secara akademis dan spiritual, perubahan-perubahan itu terasa sangat kontras. Dari yang tadinya membaca Al-Qur’an mungkin hanya sekedar rutinitas mingguan atau bahkan bulanan. Di pondok pesantren Al Yaqutun Nafis yang berprogramkan Tahfidzul Qur’an ini menjadi napas harian bagi para santri.
Bukan hanya Al Qur’an, tetapi kitab-kitab yang lain seperti Mukhtarul Al-Hadist, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, bahkan Sokhih Bukhori pun dikaji di pondok pesantren ini, dan juga santri diajarkan untuk menghafalkan syair-syair kitab, mulai dari kitab kecil seperti ‘Akidatul Awwam sampai kitab-kitab besar seperti Alfiyyah Ibnu Malik
Awalnya, menghafal bait-bait Nadzom (bait syair ilmu alat/bahasa Arab) dan ayat-ayat Al-Qur’an terasa seperti beban yang berat. Namun, lama kelamaan, lantunan ayat yang didengar setiap hari mulai meresap ke dalam hati. Ada ketenangan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Ketika berhasil menyetorkan hafalan satu juz pertama di depan Kiai ataupun Bu Nyai, rasa bangganya mengalahkan rasa puasnya memenangkan sebuah game online mana pun. Pondok pesantren mengubah cara pandang saya tentang ilmu, bahwa ilmu bukan sekedar untuk nilai di atas kertas, melainkan untuk membentuk sebuah akhlak.
“Di pesantren, kita tidak hanya diajarkan cara hidup, tetapi diajarkan untuk apa kita hidup, dan berguna untuk kehidupan orang lain.”
Rumah Kedua
Kini, setelah beberapa tahun berlalu, yang dulunya gerbang bambu kini menjadi gerbang besi berwarna hijau yang bertuliskan Pondok Pesantren Al-Yaqutun Nafis, dulu menurut pandangan saya, pondok pesantren terlihat seperti penjara, tetapi kini justru terasa seperti benteng perlindungan dari perbuatan maksiat yang menyebabkan dosa, serta menghindarkan diri dari pergaulan bebas. Teman-teman sekamar yang dulu terasa asing, kini sudah seperti saudara kandung. Kami berbagi tawa saat kiriman orang tua datang, yang biasa kami sebut IN (Insyaallah Nikmat), dan saling menguatkan saat rasa rindu rumah melanda.
Saya masuk ke pondok pesantren ini sebagai anak yang pemalas, tidak suka berangkat ngaji, dan Ketika disuruh oleh orang tua selalu tidak mau menuruti Namun, lingkungan ini merubah saya menjadi pribadi yang lebih mandiri, tangguh, berani, dan memiliki prinsip hidup yang berlandaskan agama. Perubahan ini mungkin tidak terjadi dalam semalam, tetapi setiap perjuangan, dan air mata yang menetes di atas sajadah telah membentuk diri saya, menjadi pribadi yang lebih baik, dan bermanfaat untuk masyarakat.
Penulis: M. Khafidh Abdulloh

