MEMUTAR BALIKAN PANDANGAN ORANG AWAM TERHADAP PONDOK PESANTREN

Penulis: Rifki Armandani & Muhammad Adib I

Banyak yang beranggapan bahwa instansi pondok pesantren adalah pelaku praktik Feodalisme. Anggapan tersebut memang agak krusial. Kami akan mengupas dan memaparkan hal-hal yang dianggap Feodalisme dalam pandangan santri dan orang awam, terkait apa sebenarnya makna ungkapan-ungkapan ‘kotor’ yang memojokkan nama pondok pesantren.

            Orang-orang berpendapat bahwasannya kyai eksploitatif, hidup diatas penderitaan para santrinya. Kami akan menegaskan bahwa hal itu tiadalah benarnya sama sekali. Justru kyai lah yang berkorban banyak untuk santri-santrinya, mulai dari materi, waktu, jiwa dan raga serta pikiran. Maka seharusnya pandangan inilah yang muncul.

            Perlu untuk diketahui, kyai yang memiliki harta berlimpah tidaklah hartanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Tetapi digunakan untuk para santrinya juga kemaslahatan umat. Membangun sebuah pondok tidaklah mudah dan memerlukan banyak biaya dan waktu.. Kebanyakan pembangunan di pondok pesantren itu dibiayai atas kerja keras kyai nya, BUKAN hasil dari memeras santrinya. Itulah mengapa para kyai juga harus memiliki harta yang banyak.

            Abdi ndalem di rumah seorang kyai bukanlah seorang budak seperti halnya anggapan orang-orang. Memang banyak yang beranggapan seperti itu adalah eksploitasi, dikarenakan mereka tidak tahu akan hal yang sebenarnya. Faktanya, seorang santri yang mengabdi di ndalem seorang kyai, ia hanya ingin membalas budi kepada gurunya yang telah sepenuh hati mengajarinya ilmu-ilmu agama dan juga merawat batinnya. Praktik tersebut adalah ekspresi adab dan tawadhu’ yang diajarkan, bukan perbudakan, dan bersifat sukarela. juga bagian dari proses belajar dan latihan spiritual.

            Hubungan seorang santri dan kyai sama halnya dengan seorang anak dan orang tua nya. Itu alas an mengapa santri terbiasa membantu kyai nya, karena hubungan mereka yang dekat lahir maupun batin. Wajarlah saja jika hati santri terpaut dengan ‘rasa ingin membantu’kepada kyai nya.

            Santri bersalaman dengan kyai nya sambil menunduk-nunduk, tetapi kyai yang disalami duduk dengan santai, juga beberapa santri memberikan ‘amplop’. Orang-orang berpandangan bahwa hal tersebut sangatlah miris. “Kenapa yang kasih ‘amplop’ malah yang menunduk?”. Begitulah kiranya pandangan oleh Sebagian kalangan tentang hal ini, dan dianggap mengekang kebebasan berpikir dan kritik santri terhadap kiai. Jelasnya, itu adalah bentuk rasa hormat santri kepada kyai nya, seperti halnya murid kepada guru. Mereka memberikan ‘amplop’ hanya sebatas rasa hormat, karena ilmu dan juga pembentukan karakter serta penjagaan batin yang diberikan oleh kyai, tidak seberapa dengan ‘amplop’ yang diberikan oleh santri.

Isu ini adalah perbedaan pandangan antara masyarakat luar dan orang awam yang terpengaruh media dengan realitas di pesantren. Jadi, pesantren bukan struktur kekuasaan absolut, tetapi pesantren adalah tempat pembentukan karakter spiritual dan kultural, bertujuan untuk Pendidikan moral dan etika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *