Menikmati Sore Di Yaqutun Nafis

Ditulis oleh: Muahammad adib I

menikmati ketenangan hidup sederhana, mensyukuri suasana alam, dan menemukan kebahagiaan dalam momen kecil sehari-hari di pesantren.

Pesantren ini memang dikelilingi alam, Bukan gedung-gedung yang menjulang tinggi, Bukan pula jalanan yang selalu ramai. Tetapi jajaran pepohonan yang rindang, juga kebun-kebun yang terlihat hijau, serta suasana adem yang diciptakan alam.

Waktu itu, Aku berjalan menuju asrama sepulang mengaji. Menikmati semburat Cahaya kekuningan matahari sore yang lembut dan hangat menjadikan pepohonan disekitar terlihat apik. Berjalan pelan menyusuri jalan pesantren, membiarkan dedaunan musim gugur berjatuhan menerpa tubuhku. Juga angin sepoi yang menghamburkannya. Sungguh nyaman.

Tiba-tiba Aku teringat sesuatu. Sore-sore begini, enaknya… Bukan!, bukan tidur.

Aku mengambil kopi hitam sachet ku yang memang tinggal satu, memanaskan air, lalu menyeduhnya. Aromanya begitu harum. Aku tiba di balkon lantai tiga asrama, teman-teman lainnya sedang makan sore, jadi aku memutuskan untuk pergi ke sini. Duduk santai sambil menikmati kopi hitam, juga pemandangan alam sekitar pesantren yang ten- sebentar. Angin sepoi-sepoi lagi. Huh… Menyejukkan sekali memang. Matahari hampir terbenam di ufuk barat, dengan cahaya oranye nya yang khas.

Sembari menikmati suasana yang menenangkan ini, tidak lupa aku selalu bersyukur dan memuji tuhan semesta alam atas apa yang telah diciptakan-Nya, berhalusinasi sambil melamun, atau paling tidak memikirkan hutang- maksudnya siapa saja yang berhutang denganku. Hingga yang tersisa di cangkir ku hanyalah ampas kopi pahit yang tak sengaja ku minum.

Malam hari tiba, mega merah terlihat redup, lampu-lampu asrama dan gedung pesantren lainnya terlihat telah dinyalakan. Awan hitam menutupi hampir seluruh langit. Aku sedang turun dari asrama menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat maghrib. Di tengah jalan, setetes air mengenai wajahku, lalu disusul tetesan lain. Hujan datang. Aku turun dengan berlari. Suasana berubah sangat cepat. Tapi memang terkadang suasana hati tidak sesuai dengan suasana lingkungan sekitar. Dan cerita ini pun… SELESAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *